Kamis, 10 Mei 2012

Abu-abu I’ll be Missing You

Kata orang masa-masa yang paling indah itu masa SMA? Bener nggak sih? Sebenarnya sih jawabannya tergantung individu itu sendiri. Tapi mungkin ada benarnya juga. Masa SD saya? Biasa-biasa saja. How about SMP? Cukup berkesan sih tapi nggak terlalu menarik. And now? Sejujurnya masuk SMK bukan pilihan saya tapi demi birrul walidain ya saya nurut aja apa kata orang tua toh orang tua tahu yang terbaik. Awal masuk SMK saya cukup kaget mulai dari MOS yang rada "nyeleneh", tugas yg buuanyak, tiap hari ulangan dan praktikum yang sangat melelahkan. Hm masa-masa yang penuh suka dan duka :’)

Sukanya banyak teman-teman baru, seru-seruan bareng, tebak-tebakan bahasa latin, kabur praktikum, meninggalkan praktikum SAK demi nonton chef Juna di Master Chef haha *evil laugh*. Dapat nilai perfecto di praktikum resep, emulsinya bagus, nggak ada resep yang fatal. Dukanya kalo udah capek-capek ngerjain resep eh ndilalah fatal hanya karena salah nempel etiket, atau nggak nulis nama pasien di etiketnya, krimnya cair banget, emulsinya misah antara fase minyak dan air atau gagal di ujian praktikum SAK hanya gara-gara ada 1 nomor anjlok jadi otomatis jawaban selanjutnya salah dan "didawuhi" sama gurunya gara-gara dapet nilai 4 di ujian SAK. Parahnya itu guru suka cekikikan sendiri kalau kita kesulitan buka botol simplisia untuk liat isinya dan bilang “Saya itu suka banget kalau lihat kalian susah dan underpressure”. Nggak hanya itu guru yang satu ini hobi banget nyusahin kita. Pernah suatu hari kita ulangan harian Farmakognosi materinya dari kelas 1 sampai kelas 3 dengan sistem open book. Walaupun ujiannya open book dengan waktu 2 jam pelajaran dan soalnya cuma 9 biji tapi jawabannya 4 halaman HVS bolak-balik. Ya iyalah kita kalang kabut, sibuk buka-buku tau-tau habis waktu. Ditengah keheningan tiba-tiba saja guruku berceloteh: “Tenang saja kok soalnya belum bikin tangan kalian kapalan kan?“ lalu kembali bernyanyi-nyanyi riang sambil mendengarkan alunan musik jazz dari notebooknya *dingin* Saking tegangnya dan berharap ujian itu ditiadakan, malam hari sebelum ujian open book saya bermimpi kalau guru saya itu kecelakaan parah tapi anehnya di mimpi itu ujian tetap dilaksanakan. Dan benar saja besoknya ujian tetap dilaksanakan dengan damai bahkan guru saya tampak sehat wal afiat. Olala ternyata mimpi saya salah. Awkward banget deh pokoknya. Sepertinya mimpi itu berawal ketika saya cemas dan terus menerus berharap kalau guru saya tidak hadir so ujian dibatalkan. Bahkan di hari pertama masuk sekolah setelah liburan guru ini langsung menggelar ujian SAK dan di H-1 sebelum keberangkatannya ke Jepang juga masih sempat-sempatnya ‘menghadiahi’ kami dengan ujian SAK. Capek deh !

UN H-30
Hmm menurut saya UN itu nggak seseram kelihatannya. Untung-untungan juga sih sebenarnya. Ada murid yang selalu nangkring di ranking 1 faktanya nggak lulus. Sebaliknya murid yang biasanya "setia" di ranking paling bawah justru bisa lulus dengan nilai bagus. Ya itu sih gimana nasib juga ya dan hal itu terjadi diluar kuasa kita meskipun kita sudah belajar mati-matian tapi kalau Allah belum menghendaki kita lulus ya berarti itu pilihan yang terbaik untuk kita. Toh Allah tahu yang terbaik. UAN boleh-boleh saja dipertahankan tapi jangan jadi penentu kelulusan dong kan nggak fair ! Bisa saja kan gara-gara ada kesalahan di hal-hal teknis misal pensil yang kita gunakan bukan 2B malah 4B kita nggak lulus. Ironis ya? Tapi faktanya hal ini benar-benar terjadi loh !

Perasaan saya lebih tegang dalam menghadapi UPK yang jatuh di pertengahan Februari. Bagi siswa/i SMK UPK ini "ujian pamungkas". Dimana lulus UPK adalah syarat mutlak untuk mendapatkan SIK yang nantinya akan berguna ketika terjun ke dunia kerja. Selain itu UPK juga jadi syarat untuk ikutan UN. Jadi kalau UPK saja nggak lulus, mohon maaf anda belum beruntung dan silahkan coba lagi tahun depan *ngegosok undian motor kaleee*

Apapun itu entah UPK, UN, UNKK guru saya pernah menyemangati kami dengan tagline “UPK HAJAR ! ” “Hadapi Jangan Lari !”. Ya salah satu cara untuk lulus ujian adalah dengan menghadapinya nggak ada cara lain TITIK. Ujian itu kan cara untuk mengukur sejauh mana kemampuan kita dan ujian itu akan menaikkan derajat kita. Misalnya untuk bisa naik kelas 2 tentu murid kelas 1 juga harus ujian kan. Kita nggak bakalan diakui kelas 2 kalau kita nggak mau ikut ujian kenaikan kelas. Ujian itu sunnatullah dan dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering diuji. Orang beriman aja nggak diakui beriman sama Allah kalau belum diuji juga kan?

Sejauh ini persiapan sekaligus tips saya untuk menghadapi ujian baik UAN, UPK, UNKK and so on ya belajar secara efektif dengan bikin mind map, sharing, mencicil belajar, jauh-jauh deh dari SKS, banyak latihan soal, istirahat cukup, makan makanan bergizi 4 sehat 5 sempurna juga boleh hehe dan yang paling penting rajin-rajin ibadah mohon pada Allah agar kita diberikan hasil yang terbaik. Tapi rajinnya jangan cuma pas mau ujian aja loh ! Terkadang kita sering bersikap nggak adil terhadap Tuhan bahkan menyalahkan Tuhan atas ketidakadilan yang kita terima dan kita merengek-rengek minta keadilan Tuhan. Satu hal Tuhan nggak pernah tuh yang namanya ingkar janji dan bersikap dzalim kepada hamba-Nya. Sekedar contoh ya ceritanya kita mau ujian nih ya kita belajar mati-matian, rajin ibadah mulai dari shalat fardhu sampai rawatib, hajat, hingga tahajud dilakoni, tilawah Qur’an berlembar-lembar, shaum sunnah nggak pernah absen, infaq shadaqah dibanyakin. Tapi setelah ujian berakhir eh shalat fardhu bolong-bolong, rawatib boro-boro apalagi tahajud, infaq shadaqah nggak pernah lagi, shaum sunnah jangan ditanya. Setelah hasil ujian dibagikan ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Menurut sahabat adil nggak tuh? Kalau menurut saya sih ya adil wong dari niatnya saja sudah salah. Rajin ibadah, belajar dll cuma jadi ‘alat buat nyogok Tuhan’ agar Tuhan berkenan memberikan apa yang kita inginkan. Tuhan itu lebih cerdas dari kita loh ! Guru saya yang lain juga pernah bilang jangan sekali-kali minta lulus tapi minta saja berikan yang terbaik. Jadi seandainya kita nggak lulus ya kita bisa menerima dengan lapang dada dan ikhlas bukan dengan mogok makan, mandi apalagi mogok hidup alias bunuh diri. Na’udzubillahi min dzalik. Ingat sahabat barangkali lulus bukan pilihan yang baik buat kita. Allah kan Maha Tahu apa yang terbaik buat kita ya khan?

Impian setelah lulus sih pingin kuliah atau kerja dulu nggak apa-apa deh. Saya sih nggak ngotot harus kuliah tapi kalo ditanya pingin kuliah sih ya pinginlah. Rencananya sih kalo kuliah pingin ambil jurusan Farmasi ITB. Mohon doanya ya ^^. Saya punya proyek usia (baca:cita-cita) tertinggi sih pingin berada di barisan kafilah penghafal Qur’an. Ya kafilah itu saya ingin mengejarnya Saya ingin berada di barisan kafilah penghafal Qur’an Insya Allah dengan izin-Nya. Saya yakin suatu hari nanti masa abu-abu ini akan dikenang dengan penuh senyuman dan dirindukan oleh kita semua. Abu-abu I’ll be missing you so much
*Catatan kecil sebelum UN yang belum sempet diposting* hoho

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar