Kehilangan

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Hari ini saya turut berduka atas meninggalnya putri dari guru semasa saya SMK dulu. Sedih rasanya, mengingat beliau ditinggal putri satu-satunya. Meski belum menjadi orang tua tapi saya bisa merasakan seperti apa rasanya kehilangan. Sebelum putrinya lahir ternyata perjuangan yang ditempuh amat berliku. Sempat keguguran dan hingga akhirnya Allah karuniakan kepada mereka putri kecil yang lucu. Pun setelah lahir ternyata putri tercinta mereka harus melalui perjuangan panjang melawan penyakitnya hingga akhirnya Allah menjemput-Nya kembali. Di sini kami masih berjuang meraih ridha-Nya. Berbahagialah wahai malaikat kecil ternyata Allah berkenan meridhaimu lebih dulu :)
"Seseorang yang pernah memiliki akan jauh lebih merasa kehilangan dibanding seseorang yang belum pernah memiliki" 
Duh saya lupa pernah baca quotes itu di mana, intinya sih kurang lebih kayak gitu. Dipikir-pikir bener juga sih. Sesedih-sedihnya orang yang belum pernah punya anak mungkin tidak lebih sedih daripada orang tua yang kehilangan anaknya. Sedalam-dalam dukanya orang yang tidak pernah bertemu pasti lebih dalam dukanya orang yang pernah bersama kemudian lantas berpisah. Di sini ada nggak sih yang nggak pernah merasa kehilangan? 
Kayaknya nggak ada ya hehe. Setiap kita pasti pernah merasa kehilangan, entah kehilangan seorang ayah, ibu, anak, teman, saudara, harta, jabatan, kesempatan atau kehilangan pulpen atau penghapus pas jaman sekolah hehe. 

Kehilangan apa pun bentuknya pasti pahit rasanya. Meski hanya kehilangan sebatang pensil hehe lebay. Ya kalau itu pensil satu-satunya trus buat ngisi LJK pas UN kan ya nyesek juga muehehe. Mau ngisi pake apa coba? Kehilangan atau kegagalan atau takdir apa pun yang menimpa diri mesti disikapi dengan cara pandang yang benar. Yakin deh kalau segala sesuatu yang terjadi pada diri kita pasti terjadi atas izin Allah terlepas itu hal yang kita sukai maupun yang kita benci.

Mungkin tanpa sadar kita sering kali terlalu cepat "melabeli" segala hal yang Allah beri. Setiap kesulitan yang datang menghadang tanpa ragu kita menyebutnya sebagai "musibah". Sedangkan setiap hal yang menyenangkan hati pun kita syukuri sebagai "nikmat" Allah. Sejatinya baik "musibah" atau "nikmat" Allah keduanya adalah karunia dari Allah. Baik musibah atau nikmat adalah sama-sama pemberian dari Allah yang harus kita sikapi dan syukuri. 
"Jika 'musibah' yang datang menerpa justru semakin membuat diri bergantung kepada Allah, keimanan kita bertambah, kualitas jiwa kita meningkat, dan membuat kita dapat merasakan manisnya iman masih patutkah kita labeli pemberian Allah itu sebagai 'musibah'?"
 "Sebaliknya jika 'nikmat' yang menyenangkan hati semakin membuat kita lalai dari mengingat Allah, kian mengikis kadar keimanan kita serta tidak meningkatkan kualitas jiwa kita layakkah 'nikmat' tersebut kita syukuri?

Komentar

Posting Komentar

Kasih komentar dong biar nggak terlalu sepi hehe

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Resep yang Sering Keluar di UPK

Sepucuk Surat Cinta Untuk Sang Guru