Writing Spirit

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Btw postingan ini terinspirasi pas browsing-browsing random gitu. Lupa sih baca dimana tapi intinya tentang semangat menulis. Dulu pas zaman kekhalifahan Islam baik Dinasti Umayyah maupun Abbasiyah lahir ulama-ulama terkenal. Beliau-beliau ini bahkan menelurkan karya-karya monumental yang hingga hari ini bisa kita nikmati.

Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Al-Muwatta'-nya Imam Malik, Imam Syafi'i, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Tafsir 30 Juz Ibnu Katsir dll.
Karya-karya para ulama ini nggak cuma di bidang Fiqh tapi merambah di segala bidang. Aqidah, Syari'ah, Sejarah dll. Ulama' terdahulu, mereka sama sekali nggak ada niatan menulis buat mencari materi. Motivasi beliau menulis murni karena ingin mengabdikan diri untuk umat. Menulis untuk mencerahkan umat. Menulis demi membimbing umat. Boro-boro dapet royalti. Kitab-kitab kita karangan ulama' ini justru kebanyakan dibukukan oleh murid-murid setelah beliau wafat.

Nggak ada yang mereka cari selain Ridha Allah. Beliau menulis bukan untuk menjual bukunya, bukan untuk royalti apalagi untuk ketenaran. Ulama-ulama yang rendah hati ini menulis semata-mata lillah.

Keren ya?
Kalau kita kira-kira masih ikhlas & semangat  nulis nggak ya meskipun nggak ada sepeserpun uang yang masuk ke kantong kita? Hehe
Justru yang menerima royalti dari kitab-kitab yang dikarang ulama itu adalah penerjemah yang menerjemahkan kitab-kitab mereka saat ini. Subhanallah. Sosok para ulama ini kan udah nggak ada ya tapi meski secara fisik telah tiada mereka masih bisa menebar manfaat kepada kita yang hidup hari ini. Meski beliau hidup di masa lalu namun dampak dari karya mereka masih bisa kita rasakan saat ini. Misalnya muncul peluang usaha salah satunya dengan menerjemahkannya. Kasarnya sih udah meninggal aja dampak dari amal shalih mereka (menulis) masih bisa kita rasakan. Dengan kitab yang mereka tulis di masa lampau aja masih bisa 'ngasih makan' penerjemah yang hidup beratus-ratus tahun setelahnya. Kita yang masih hidup hari ini kira-kira sudahkah hidup kita bermanfaat buat orang lain? Seberapa bermanfaatkah hidup kita?

Menulis itu membuat seseorang abadi. Karyanya akan selalu dikenang. Hidupnya melampaui umurnya. Karyanya melintasi sepanjang zaman.

Menulis yuk !

Komentar

  1. keren rendah hati, lumayan tuh jadi penerjemahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rendah hati? Siapa yang rendah hati?

      Hapus

Poskan Komentar

Kasih komentar dong biar nggak terlalu sepi hehe

Pos populer dari blog ini

Jurnal Resep yang Sering Keluar di UPK

Resep yang sering keluar di UPK