Belajar Untuk Kecewa

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Hai sahabat pernahkah kalian merasa 'dikecewakan' oleh Tuhan? Merasa sudah berusaha yang terbaik namun hasil yang dipetik tidak sesuai keinginan dan kehendak diri. Saya yakin kalian pasti pernah mengalaminya. Allah menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan panas bersama dingin, siang beriringan dengan malam, laki-laki berdampingan dengan wanita, tangis bergantian dengan tawa, puas dengan kecewa. Dan begitupun dengan bahagia sudah sunnatullah-Nya juga bergandengan dengan duka.

Terkadang kita merasa bahwa kita sudah berusaha sekuat tenaga namun hasil yang diharapkan tak sesuai kenyataan. Apa yang telah kita perjuangkan dan usahakan sia-sia semata. Lantas apakah Allah telah berlaku zhalim kepada kita? Tidak kawan. Allah tidak pernah menzhalimi hamba-Nya justru kitalah yang seringkali menzhalimi diri sendiri bahkan menzhalimi Allah.

Pernah suatu ketika saya merasa kecewa sekali atas hasil yang saya upayakan sekuat tenaga. "Kok Allah gitu sih? padahal kan aku udah berusaha". Namun setelah saya renungi oh iya ternyata saya kurang di sini oh iya ternyata saya kurang di situ. Ingat sahabat Allah selalu menilai proses kita dari awal hingga akhir tidak seperti kita manusia yang cenderung berorientasi pada hasil. Mungkin ketika saya melakukan aktivitas di awal niat saya lurus karena Allah tapi di tengah-tengah ternyata niat saya berubah, kurang tawakkal, lebih berharap kepada manusia, takabbur, ujub dsb

Oh Allah sungguh hina sekali hamba-Mu ini

Waktu kelas XII saya ingin sekali menjadi salah satu lulusan terbaik jurusan Farmasi. Tapi ketika ujikom nilai saya kurang memuaskan (lulus sih tapi nggak jadi yang terbaik) padahal saya yakin saya bisa. Alhasil saya kecewa berat dan terus-terusan menyalahkan diri. Ini pasti gara-gara saya kurang telitilah, inilah, itulah. Saat itu saya nggak terima. Why me? Kenapa harus saya? Anak-anak lain yang biasa-biasa bahkan di bawah saya aja bisa dapat nilai yang lebih dari saya? (rada takabbur nih) Hati saya hancur sehancur-hancurnya *apa sih*. Susah payah saya berusaha untuk bangkit. Barulah saya sadar oh mungkin ibadah saya kurang, ikhtiar saya kurang, doa saya kurang, tawakkal saya kurang wah banyak kurangnya deh. Memang manusia bisa berencana begini dan begitu tapi ingat ada pula hal-hal yang di luar kuasa kita. Tetap saja ada Allah yang berkuasa untuk menentukan. Yah kalau bahasa jawanya sih Man propose Allah dispose hehe. Dasar manusia kalau udah 'ditampar' aja baru ngerasa hehe. Kita itu kalau udah kecewa, marah atau tertimpa hal yang nggak enak atau ada maunya aja baru deh ngadu dan kembali ke Allah giliran lagi seneng aja banyakan lupanya daripada ingetnya sama Allah.

*lanjut ke cerita*

Untuk menebus kekecewaan saya saat ujikom saya berusaha dengan sungguh-sungguh ketika pelaksanaan TPP & UPK. Setelah beberapa minggu kemudian pengumuman hasil UPK keluar dan ternyata saya tidak menjadi yang terbaik. Sedikit kecewa tapi kekecewaan ini tak sebesar dulu. Saya 'sedikit' lebih ikhlas dan lapang dada meski dalam hati tetap saja saya masih berharap jadi yang terbaik. Ah penilaian manusia kan tidak selalu merepresentasikan diri kita yang sesungguhnya (berusaha menghibur diri sendiri) toh sebenernya siapa sih yang lebih berhak menilai diri kita? Allah kan? trus ngapain pusing-pusing meraih sanjungan dan ridha manusia tapi malah mengundang murka-Nya. Toh saya sudah berusaha. Biarlah Allah yang menilai.

Beberapa jam sebelum acara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan. Semua wisudawan sibuk masing-masing. Ada yang bolak-balik ke WC untuk sekedar touch up (maklum ingin tampil beda di hari istimewa), ada yang bernarsis-narsis ria dsb. Hati saya gelisah. Ya Allah ingin kulabuhkan semua kegelisahan dan keresahan ini pada-Mu ya Rabb. Saya berusaha mencuri-curi waktu untuk shalat dhuha. Rasanya sayang sekali jika sehari saja melewatkan dhuha meski rangkaian acara cukup padat. Dhuha dulu deh kan wasta'inuu bis shobri was sholaah (mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat). Masa sih Allah nggak mau nolong saya? hehe. Usai dhuha hati saya menjadi lebih tenang. Soal nanti pidato di podium lancar atau nggak gimana nanti deh. Saya percaya Allah bakal nolong kok hehe. (Saya diutus dari 9 sekolah untuk memberikan sambutan di depan lebih dari 500-1000 undangan kebayang kan groginya kayak apa?)

Alhamdulillah sambutan berjalan lancar ya meskipun ada yang lupa-lupa dikit hehe. Fiuuuuh leganya hehe. Maklum soalnya panas dingin sebelum naik podium. Luruh sudah beban di pundak saya hehe. Prosesi pelantikan dan pengambilan sumpah berjalan lancar aman dan terkendali huehehe. Biasanya nih setelah ngambil-ngambil map apalah itu suka diumumin tuh siapa lulusan terbaik dari masing-masing sekolah dan disuruh maju ke depan (ya iyalah maju ke depan masak ke belakang hehe). Sedikit ngarep juga sih bisa berdiri di depan sana hehe. Ah terserah Allah aja deh. Saya nggak mau terlalu 'ngotot' sama Allah. Saya yakin Allah pasti tahu yang terbaik. 

-----pas pengumuman-----
"Wisudawan terbaik pertama dari SMK Bina Insan Mulia . . ." jantung saya berdegup kencang eng ing eng . . .  (siapa ya? tanya saya dalam hati) dan ternyata MC tidak menyebut nama saya. Oh ya sudahlah saya mungkin memang belum menjadi yang terbaik pikir saya saat itu. Lanjut ke pengumuman wisudawan yang terbaik kedua dan ternyata MC MENYEBUTKAN NAMA SAYA ! Subhanallah saya kaget bukan kepalang. Saya? pantaskah? Rasanya masih ada yang lebih baik dari saya. Oh Allah inikah jawaban dari doa-doaku yang kupanjatkan di sisa-sisa keheningan malam itu. Kaget bercampur senang. Eh tapi saya masih sedikit sangsi bener nggak sih yang juara 2 nya saya? Jangan-jangan MC-nya salah nyebutin nama, ketuker atau apa kan ngenes banget tuh kalau nama kita udah disebutin eh tahunya salah orang. Psikis bro !
Saya tanya sana-sini ini bener nggak sih? Jangan-jangan ada kesalahan. Memang benar sayalah wisudawati terbaik ke 2 itu. Meskipun nggak jadi yang pertama saya sangat bersyukur sungguh ini anugerah yang luar biasa tak terkira. Emang ya Allah nggak tidur Allah tuh senantiasa mendengar doa-doa kita. 
Allah tuh suka ngasih kita kejutan dan mengabulkan doa kita dengan cara-cara yang nggak kita sangka !

So jangan pernah berhenti berusaha yang terbaik, berdoa yang terbaik, niatkan yang terbaik, berharap yang terbaik, bersabar yang terbaik dan tawakkal yang terbaik ! Sungguh Allah Maha Mendengar doa-doa kita dan Maha melihat usaha-usaha kita ^^

Jauh-jauh deh dari putus asa. Cuma-cuma orang-orang musyrik aja tuh yang suka berputus asa. Muslim mah nggak boleh tuh yang namanya putus asa. Kalau kita putus asa berarti kita 'sengaja' memutuskan diri dari rahmat Allah. Inget pertolongan Allah itu dekat. Jadi mintalah pertolongan Allah dengan sabar dan shalat !

Laa tahzan ! Innallaha ma'ana
Jangan bersedih sesungguhnya Allah senantiasa bersama kita ^^

Komentar

Pos populer dari blog ini

Jurnal Resep yang Sering Keluar di UPK

Resep yang sering keluar di UPK